Metode Pembelajaran bagi Anak
Sebagai calon
pendidik, kita harus tahu bahwasanya cara mengajari dan mendidik anak murid
atau pelajar itu tidak hanya berfokus pada satu cara. Banyak sekali cara atau
metode yang dapat calon pendidik ambil dan calon pendidik terapkan dalam melakukan
pembelajaran kepada para pembelajar/anak muridnya nanti.
Karena cara
belajar setiap murid itu berbeda-beda dan bervariasi, juga karaktrer anak didik
yang sudah pasti berbeda antara satu dengan yang lainnya, ada anak murid yang cepat
tanggap, yang kurang tanggap, atau sama sekali tidak masuk ke dalam circle
pembelajaran. Maka dari itulah, si pendidik diharapkan mampu untuk menciptakan
suasana belajar yang nyaman dan berkualitas. Mampu memikirkan dan
mengimplementasikan bagaimana caranya untuk memahami karakter anak atau gaya
belajar anak, melakukan pertimbangan dan solusi saat menemukan anak didik yang ‘sedikit’
kurang terikat pada aturan atau bahkan dalam kegiatan pembelajaran, dan melakukan
metode pembelajaran yang ‘appropriate level’ atau sesuai dengan levelnya.
Berbicara tentang
karakter, mungkin ada saja anak didik yang kurang terikat/masuk dalam kegiatan pembelajaran,
hal itu mungkin karena karakter atau gaya belajar anak didik tersebut berbeda-beda,
karakter itu menyangkut dengan gaya belajar anak. Gaya belajar anak bisa berupa
audio/auditori ataupun visual. Pertama adalah gaya belajar ‘auditori’ yang
berarti si anak didik mempunyai gaya belajar berupa ‘mendengarkan’ dan biasanya
menyerap informasi secara optimal dengan mengandalkan indera pendengaran. Dengan
gaya belajar ‘auditori’ ini anak didik bisa lebih mudah untuk menyerap pelajaran
dengan baik dengan cara diucapkan, contohnya seperti, ia akan lebih paham dan
mudah mencerna materi pelajaran jika materi itu disampaikan dengan cara diucapkan.
Untuk metode pembelajaran
dengan gaya belajar auditori, calon pendidik bisa melakukan dan menerapkan pembelajaran
yang inovatif seperti memberikan materi melalui audio-visual, dan memberikan
kesempatan kepada anak didik untuk mencerna dan mempelajari lagi apa yang sudah
didengarnya. Setelah itu, pendidik bisa bertanya sebagai salah satu feedback
dari kegiatan pembelajaran, seperti bertanya, “Apakah sudah paham dengan
materinya?” hanya untuk sekedar mengetahui
bahwa si anak didik benar-benar paham dan dapat menangkap materinya dengan
baik.
Yang kedua adalah
gaya pembelajaran ‘visual’. Untuk gaya pembelajaran ini, anak didik cenderung lebih
mudah menangkap dan menyerap informasi dengan cara melihat simbol, gambar atau
ilustrasi. Anak didik ini lebih mengandalkan indera penglihatannya serta
imajinasinya. Dengan gaya belajar ini, anak didik akan lebih mudah mengingat sesuatu
dengan cara melihat ilustrasi atau pun menonton video.
Untuk metode
pembelajaran dengan gaya belajar visual, pendidik bisa menyuguhkan materi dengan
video dan ilutrasi menarik, sehingga anak didik bisa berimajinasi tentang materi
apa yang disampaikan. Dengan begitu, anak didik bisa lebih mudah mencerna dan
memahami materi pelajaran melalui hasil imajinasinya. Untuk melakukan feedback
pembelajaran, pendidik bisa melakukan diskusi ataupun tanya jawab mengenai
materi yang sudah disampaikan melalui video agar pendidik tahu sejauh mana pemahaman
si anak didik tersebut.
Dan untuk
melakukan pembelajaran di dalam kelas, pendidik diharapkan mampu menerapkan
metode pembelajaran yang sesuai dengan levelnya. Tidak kurang dan juga tidak lebih
dalam menyampaikan materi pembelajaran. Dan maksud sesuai level ini adalah pendidik
bisa memberikan materi yang sesuai dengan tingkatan/level si anak didik, dan
bisa membaca atau mengira-ngira tingkat kesukaran materi yang akan disampaikan
kepada anak didik. Sehingga si pendidik bisa lebih menyederhanakan bahasan
materi agar appropriate/sesuai dan dapat dipahami oleh si anak didik.
Untuk melakukan kegiatan
pembelajaran yang baik di dalam kelas, pendidik diharapkan mampu untuk membaca
karakter dan gaya belajar anak didik, mampu menerapkan metode pembelajaran yang
inovatif dan up to date, mampu memberikan pengajaran yang sesuai dengan gaya
belajar anak didik, seperti kegiatan pembelajaran pada gaya belajar
auditori ataupun gaya belajar visual, dan melakukan pengajaran yang in appropriate
level atau sesuai dengan level/tingkatan pemahaman si anak didik.
Penulis
Arin Ruhama Sabila
Tidak ada komentar:
Posting Komentar